Masohi, 7 Mei 2026 — Yayasan Bina Karta Lestari (BINTARI) bersama Yayasan Toma Majo Lease (TML) yang bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Maluku menggelar kegiatan Training Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) di Hotel Lelemuku, Masohi, Kabupaten Maluku Tengah. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas dan kesadaran para pemangku kepentingan mengenai pentingnya pendekatan inklusif dalam perlindungan ruang hidup, biodiversitas, dan pengelolaan sampah berkelanjutan.
Pelatihan yang berlangsung sejak pukul 09.00 hingga 15.00 WIT tersebut diikuti sekitar 30 – 40 peserta dari berbagai unsur pemerintah daerah, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, sektor swasta, komunitas penyandang disabilitas, hingga organisasi keagamaan di Kabupaten Maluku Tengah.
Kegiatan ini dilatarbelakangi meningkatnya ancaman pencemaran sampah plastik terhadap ekosistem laut di Maluku Tengah, khususnya di kawasan konservasi perairan Kepulauan Banda dan Pulau-pulau Lease yang menjadi habitat Dugong, Penyu, dan Hiu Martil. Dalam konteks tersebut, pendekatan GEDSI dinilai penting untuk memastikan seluruh kelompok masyarakat, termasuk perempuan, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan lainnya, memiliki kesempatan yang setara dalam pengelolaan lingkungan dan pengambilan keputusan pembangunan.
Ketua panitia kegiatan menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari implementasi Program PLASMA-B yang dijalankan BINTARI untuk mendukung pengurangan kebocoran sampah plastik dan memperkuat konservasi ekosistem laut di Maluku Tengah. Selain memperkenalkan konsep dasar GEDSI, pelatihan juga membahas ruang aman, kekerasan berbasis gender, hingga perencanaan pembangunan yang inklusif dan responsif gender.
“Kami berharap seluruh peserta dapat memahami pentingnya keterlibatan semua kelompok masyarakat dalam menjaga lingkungan dan mendorong pembangunan yang lebih adil serta berkelanjutan,” ujar perwakilan BINTARI dalam sesi pembukaan kegiatan.
Pelatihan dilaksanakan secara partisipatif melalui metode pemaparan materi, diskusi kelompok, studi kasus, dan refleksi bersama. Para peserta juga mengikuti pre-test dan post-test untuk mengukur pemahaman terkait penerapan GEDSI dalam konteks lingkungan hidup dan pengelolaan sampah.
Melalui kegiatan ini, diharapkan tumbuh perspektif inklusif di kalangan pemangku kepentingan daerah serta tersusun rumusan sederhana mengenai peluang dan tantangan penerapan GEDSI dalam pengelolaan ruang hidup, biodiversitas, dan sampah di Kabupaten Maluku Tengah.