
Masohi – Dalam rangka memperingati Bulan Lingkungan, Klasis GPM Masohi menggelar kegiatan Jalan Santai sambil LISA (Lihat Sampah Angkat) yang melibatkan kurang lebih 200 warga jemaat dari berbagai jemaat dalam lingkup Klasis GPM Masohi, termasuk warga jemaat yang datang dari luar Kota Masohi. Kegiatan ini berlangsung dengan penuh semangat dan kebersamaan sebagai bentuk kepedulian terhadap kebersihan lingkungan serta tanggung jawab iman dalam menjaga ciptaan Tuhan.
Para peserta tampak antusias mengikuti kegiatan dengan mengenakan jersei bertema Piala Dunia 2026, yang menambah semarak dan kekompakan selama perjalanan. Selain menjadi sarana olahraga dan mempererat persekutuan antarjemaat, kegiatan ini juga menjadi aksi nyata dalam menjaga kebersihan lingkungan Kota Masohi.
Rute jalan santai dimulai dari Kantor Klasis GPM Masohi, kemudian bergerak menuju PLN Masohi, dilanjutkan ke Bundaran Kota Masohi, selanjutnya menuju arah Pendopo, kemudian berbelok kanan menuju Rumah Sakit Umum Daerah, melewati Polres Maluku Tengah, dan berbelok kanan di kawasan Bengkar sebelum akhirnya kembali ke titik awal di Kantor Klasis GPM Masohi.
Sepanjang perjalanan, peserta secara aktif melakukan aksi LISA (Lihat Sampah Angkat) dengan memungut berbagai jenis sampah yang ditemukan di sepanjang jalur. Hasilnya, terkumpul sampah plastik sebanyak satu armada tossa, yang kemudian diangkut untuk proses penanganan lebih lanjut. Capaian ini menunjukkan tingginya kepedulian warga jemaat terhadap kebersihan lingkungan sekaligus menjadi pengingat bahwa persoalan sampah masih memerlukan perhatian bersama.
Ketua Klasis GPM Masohi dalam kesempatan tersebut menyampaikan apresiasi kepada seluruh jemaat yang telah berpartisipasi. Menurutnya, kegiatan ini merupakan bentuk implementasi iman yang diwujudkan melalui tindakan nyata menjaga lingkungan hidup sebagai bagian dari ciptaan Tuhan yang harus dipelihara dan dilestarikan.
Melalui kegiatan Jalan Santai sambil LISA ini, Klasis GPM Masohi berharap kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan terus meningkat. Semangat gotong royong, kepedulian sosial, dan tanggung jawab terhadap alam diharapkan dapat terus menjadi budaya hidup warga gereja dan masyarakat luas.
“Bersih Lingkunganku, Sehat Kotaku, Wujud Syukurku kepada Tuhan.”
